sosio

NAMA                        : OLFERA DILAFIANTI

KELAS                       : XI IPS 2

NO ABSEN                : 28

MAPEL                      : SOSIOLOGI

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas berkat dan hidayahnya saya dapat menyelesaikan sebuah karya tulis ilmiah sejarah yang didasarkan pada study lapangan yang telah saya ikuti.

Tiada gading yang tak retak, demikian pula dengan karya tulis ilmiah ini tentu masih banyak kekurangan. Untuk itu, kritik dan saran maupun masukan dari semua pihak sangat saya harapkan demi kesempurnaan karya tulis ilmiah ini.

Semoga karya tulis ilmiah ini bermanfaat bagi kita dan dapat memberikan pengetahuan bagi kita semua serta berguna bagi siswa siswi disekolah maupun dimasyarakat.

 

 

 

DAFTAR ISI


 

PENDAHULUAN

1.LATAR BELAKANG MASALAH

Bali, juga dikenali sebagai Pulau Dewata, ialah sebuah pulau di Indonesia yang terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Bali terkenal sebagai destinasi pelancongan, khususnya bagi orang Jepun dan Australia. Dalam setiap bangsa dipastikan memiliki adat dan kebudayaannya masing-masing. Untuk itu, mereka memiliki kewajiban untuk melestarikan dan mengimplementasikan segala adat dan kebudayaannya tersebut secara sungguh-sungguh. Demikian halnya dengan adat dan kebudayaan yang ada di Pulau Dewata Bali yang hingga kinipun masih dipegang teguh secara konsisten oleh masyarakatnya.

Adat dan kebudayaan yang ada pada masyarakat Bali sangat erat kaitannya dengan agama dan kehidupan relijius masyarakat Hindu. Keduanya telah memiliki akar sejarah yang demikian panjang dan mencerminkan konfigurasi ekspresif dengan dominasi nilai dan filosofi relijius agama Hindu. Dalam konfigurasi tersebut tertuang aspek berupa esensi keagamaan, pola kehidupan, lembaga kemasyarakatan, maupun kesenian yang ada didalam masyarakatBali.

2. RUMUSAN MASALAH

  • Bagaimana struktur social yang ada di pada masyarakat Bali yang berkaitan dengan differensiasi sosial ( dalam hal religi, profesi, jenis kelamin / pembagian peran antara laki laki dan perempuan, dan budaya ) ?
  • Bagaimana bentuk dan dasar stratifikasi social pada masyarakat Bali ?

3. TUJUAN PENULISAN

  • Mengetahui struktur social yang ada di pada masyarakat Bali yang berkaitan dengan differensiasi sosial ( dalam hal religi, profesi, jenis kelamin / pembagian peran antara laki laki dan perempuan, dan budaya )
  • Mengetahui bentuk dan dasar stratifikasi social pada masyarakat Bali.

 

 

 

4. MANFAAT PENULISAN

Bisa dijadikan sebagai sumber pengetahuan dan pengalaman bagi siswa mengenai struktur social masyarakat Bali dan memahami penjabaran dari perbedaan struktur social tersebut.

 

 

BAB ISI / PENJABARAN

Kehidupan masyarat asli Bali tercermin dari kehidupan masyarakatnya yang unik dan tidak terlepas dari adat istiadat budaya. Masyarakat yang ramah dengan pola kehidupan yang pluralisme dan tidak terlalu banyak aturan namun penuh kedamaian.

  • Religi atau agama beserta ritual keagamaannya

Mayoritas masyarakat Bali menganut ajaran Hindu yang mempunyai kerangka dasar dengan meliputi tiga hal; filsafat, upacara, dan Tata Susila. Secara hakikat ajaran Bindu merupakan Panca Cradha yang memiliki arti lima keyakinan yakni Widhi Cradha ialah keyakinan akan adanya Tuhan Yang Maha Esa, Atma Cradha ialah keyakinan akan adanya atman atau jiwa pada setiap makhluk, Karma Pala Cradha ialah keyakinan terhadap hukum perbuatan, Punarbhawa Cradha adalah keyakinan terhadap adanya reinkarnasi atau kelahiran kembali setelah kematian, Moksa Cradha adalah keyakinan terhadap moksa yaitu kebahagiaan yang kekal abadi.

Kebudayaan masyarakat Bali yang diwariskan dari jaman pra sejarah sampai sekarang sangat dipengaruhi oleh keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa atau kehidupan religi beragama masyarakat Bali, seperti keyakinan terhadap Tuhan Yang maha Esa, percaya dengan adanya satu Tuhan yaitu Ida sang Hyang Widi Wasa, tapi dengan manifestasi dan perwujudan yang berbeda-beda sesuai dengan fungsinya (personifikasi) menjadi Dewa dan Dewi, seperti yang ada pada konsep Tri Murti pada ajaran Hindu, pada saat Tuhan menciptakan dunia ini dan segala isinya disebut Dewa Pencipta atau Dewa Brahma, pada saat memelihara dinamakan Dewa Wisnu dan pada saat melebur dinamakan Dewa Siwa.

Keunikan masyarakat Bali dapat dilihat dari garis keturunan derajat, yaitu Kasta Brahmana, Kasta Satria, atau Kasta Sudra.

Kasta Brahmana adalah kasta tertinggi untuk masyarakat Bali,  yang termasuk dalam kasta Brahmana ini adalah kelompok para bangsawan, guru, atau pemuka agama yang dikenal dengan sebutan gelar Ida Bagus untuk laki-laki dan Ida Ayu untuk perempuan atau sering disingkat dayu

Kasta Kesatria adalah golongan menengah, kelompok orang yang mempunyai jiwa kepahlawanan seperti para raja, pejabat daerah, dan tentara. Kasta Kesatri ini dikenal dengan sebutan nama gelarnya Cokarda, Anak Agung, Ratu, dan Prebagus untuk laki-laki; sedangkan sebutan untuk perempuan Anak Agung Isti atau Dewa Ayu.

Kasta Sudra yaitu kasta yang paling rendah kelompok orang kebanyakan yang didominasi profesi pengemis, pengangguran, dan karyawan tingkat bawah. Sebutan kasta, sudah menjadi penting dalam kehidupan masyarakat Bali, hal ini sebagai bentuk kehormatan terhadap kasta yang lebih tinggi. Selain itu kasta di Bali juga mengenal sebutan kekerabatan atau silsilah keluarga. Dan hal ini menjadi penting untuk penghormatan seseorang terhadap yang lainnya atau antara yang lebih muda kepada yang lebih tua.

  • ·         Profesi atau mata pencaharian

Mata pencarian pokok dari orang Bali adalah bertani. Dapat dikatakan 70% dari mereka berpenghidupan bercocok tanam, dan hanya 30% hidup dari peternakan, berdagang, menjadi buruh, pegawai, dan lain-lain. Berhubung dengan perbedaan-perbedaan lingkungan alam dan iklim diberbagai tempat di Bali, maka terdapatlah perbedaan dalam pengolahan tanah untuk bercocok tanam itu.

Di daerah Bali bagian utara, tanah dataran sedikit curah hujan, maka dari itu bercocok tanam relatif lebihterbatas daripada di Bali bagian selatan. Di samping bercocok tanam di sawah, di Bali bagian utara sebelah timur dan sebelah baratnya ada usaha menanam buah-buahan ( jeruk ),palawija, kelapa dan kopi ( di pegunungan ). Kebun kopi rakyat menurut laporan Jawatan Pertanian meliputi daerah luas 26.657Ha dan terutama terdapat di pegunungan daerah Buleleng ( Singaraja ) dan Tabanan. Kadangkala letaknya sangat tinggi dan sering sukar didatangi. Ada dua jenis kopi yang ditanam, yaitu jenis Robusta dan Arabika. Kedua-duanya diexpor baik keluar Bali maupun keluar negeri dan ini tidak sedikit artinya bagi perekonomian rakyat. Dilihat dari segi hasilnya, maka sesudah kopi, penghasilan kelapa merupakan hal yang penting. Luas-luas kebun kelapa menurut Jawatan Pertanian meliputi daerah yang luasnya 6.650,50Ha. Kecuali untuk keperluan rakyat sendiri, kelapa juga diexpor. Pohon-pohon kelapa kecuali di kebun-kebun atau diladang ditanam juga di halaman rumah-rumah. Terutaman di daerah pantai banyak orang menananm pohon kelapa. Selain untuk membuat kopra, maka batok serta serabut kelapa dipergunakan sebagai bahan untuk kerajinan rakyat. Adapun hasil penanaman buah-buahan seperti jeruk ( terutama di Kabupaten Buleleng ) serta salak ( di Karangasem ), diexpor keluar pulau, terutama ke kota-kota besar di Jawa.Di daerah Bali bagian selatan yang merupakan daerah dataran yang lebih luas yang pada umumnya dengan curah hujan yang cukup baik, penduduk terutama mengusahakan bercocok tanam disawah. Sedapat mungkin apabila keadaan mengijinkan, maka penduduk berusaha terutama bercocok tanam di sawah. Untuk kepentingan ini maka diperlukanlah pengaturan air yang sebaik-baiknya. Berkembanglah atas usaha rakyat sistem subak yang mengatur perairan dan penanaman di sawah-sawah. Apabila air cukup, maka ditanamlah padi yang terus menerus, tanpa di selingi oleh palawija ( sistem demikian yang di sebut di Bali tulak sumur ). Sebaliknya pabila keadaan kurang cukup, maka diadakan giliran penanaman padi dan palawija ( sistem ini di sebut sistem kertamasa ). Semua cara tersebut di atur oleh organisasi pengairan rakyat, subak.

Subak mempunyai pengurus yang di kepalai oleh klian subak, anggota serta bagian-bagian bawahan yang mengatur pengairan serta penanaman pada wilayah ssawah tertentu. Di samping itu subak mempunyai juga aspek keagamaan dan untuk ini mempunyai suatu sistem upacara-upacara serta tempat pemujaan sendiri. Dalam hubungan dengan pemerintahan, subak mengenal suatu sistem administrasi dari sedahan hingga sedahan-agung pada tingkat kabupaten. Di daerah-daerah yang karena luas tanah pada umumnya tidak mencukupi keperluan penduduk yang bertambah padat dengan laju yang cepat, terdapat pula sistem penggarapan tanah yang dikerjakan oleh buruh tani. Dahulu sebelum adanya undang-undang yang mengatur hal ini, ada berbagai sistem bagi hasil antara pemilik tanah dan penggarapnya. Di daerah yang airnya kurang atau yang mendapat air dari hujan, maka ditanamlah padi gaga, jagung, kacang-kacangan dan sebagainya. Demikian keadaan makan penduduk Bali di berbagai daerah berbeda-beda, ada yang makan beras tulen dan ada yang makan beras campuran ( dengan jagung atau dengan ketela rambat, ialah cacah )

Kecuali bercocok tanam, berternak juga merupakan uasaha yang penting dalam masyarakat pedesaan di Bali. Binatang peliaraan yang terutama adalah babi dan sapi. Babi dipelihara terutama oleh kaum wanita biasanya sebagai sambilan dalam kehidupan rumah tangga, sedangkan sapi untuk sebagian dipergunakan dalam hubungan dengan pertanian, sebagai tenaga pembantu di sawah atau di ladang, dan untuk sebagian dipelihara untuk dagingnya. Ada juga babi dan sapi yang di export keluar negeri seperti ke Hongkong dan Singapura. Boleh dikatakan bahwa setiap rumah tangga di Bali memelihara babi sebagai sebagai sambilan, karena pengembiakannya  relatif lebih cepat dan lebih mudah daripada sapi. Sedangkan untuk pemeliharaan sapi yang baik terdapat pada daerah-daerah tertentu di Bali, yaitu menurut letaknya. Daerah yang baik adalah misalnya derah kecamatan Penebel dan Marga ( Tabanan ), karena daerah-daerah tersebut bergunung-gunung dan mendapat hujan yang cukup, sehingga banyak tanah yang tidak di pergunakan untuk usaha pertanian sehingga dapat dipakai untuk memelihara rumput yang berguna bagi ternak. Di samping sapi dan babi, ada juga dipelihara ternak kerbau, kuda, kambing, tetapi hasilnya relatif jauh lebih sedikiT.

Suatu mata pencaharian lain adalah perikanan, baik perikanan darat maupun perikanan laut. Perikanan darat boleh dikatakan umumnya merupakan mata pencaharian sambilan dari penanaman padi di sawah, terutama di daerah-daerah dengan cukup air, artinya air sepanjang masa itu ada. Jenis ikan yang dipelihara adalah ikan mas, karper dan mujair.

Di Bali terdapat pula cukup banyak industri dan kerajinan rumah tangga usaha perseorangan,atau usaha setengah besar, yang meliputi kerajinan pembuatan benda-benda anyaman, patung, kain tenun,benda-benda mas, perak dan besi,perusahaan meesin-mesin, percetakan, pabrik kopi, pabrik rokok, pabrik makanan kaleng, tekstil, pemintalan, dan lain-lain. Usaha dalam bidang ini tentu memberikan lapangan kerja yang agak luas kepada penduduk. Oleh karena perdagangan di Bali menarik dalam bidang pemandangannya, aktivitas-aktivitas adat istiadat, upacara dan kesenian, maka banyaklah wisatawan baik dari dalam negeri maupun luar negeri mengunjungi Bali. Untuk menunjang kepariwisataan, maka timbullah perusahaan-perusahaan seperti perhotelan, taxi, travel bureau, took kesenian dan sebaginya. Terutama di derah-daerah Denpasar ( Badung ), Gianyar, Bangli, dan Tabanan. Kepariwisataan telah merangsang adanya pengembangan kreasi-kreasi kesenian baik seni tabuh, seni tari maupun seni rupa.

           

  • Jenis kelamin / pembagian peran antara laki laki dan perempuan

 

 

Pola kehidupan masyarakat Bali sangat rigid dan terikat pada norma-norma baik agama maupun sosial. Dalam konteks norma agama misalnya, setiap pemeluk Hindu Bali wajib untuk melaksanakan sembahyang atau pemujaan pada pura tertentu diwajibkan pada satu tempat tinggal bersama dalam komunitas, dalam kepemilikan tanah pertanian diwajibkan dalam satu subak tertentu, diwajibkan dalam status sosial berdasarkan warna, pada ikatan kekerabatan diwajibkan menurut prinsip patrilineal.

Pakaian daerah Bali sesungguhnya sangat bervariasi, meskipun secara selintas kelihatannya sama. Masing-masing daerah di Bali mempunyai ciri khas simbolik dan ornamen, berdasarkan kegiatan/upacara, jenis kelamin dan umur penggunanya. Status sosial dan ekonomi seseorang dapat diketahui berdasarkan corak busana dan ornamen perhiasan yang dipakainya.

Pria

Anak-anak Ubud mengenakan udeng, kemeja putih dan kain.

Busana tradisional pria umumnya terdiri dari:

  • Udeng (ikat kepala)
  • Kain kampuh
  • Umpal (selendang pengikat)
  • Kain wastra (kemben)
  • Sabuk
  • Keris
  • Beragam ornamen perhiasan

Sering pula dikenakan baju kemeja, jas dan alas kaki sebagai pelengkap.

Wanita

 

Para penari cilik mengenakan gelung, songket dan kain prada.

Busana tradisional wanita umumnya terdiri dari:

  • Gelung (sanggul)
  • Sesenteng (kemben songket)
  • Kain wastra
  • Sabuk prada (stagen), membelit pinggul dan dada
  • Selendang songket bahu ke bawah
  • Kain tapih atau sinjang, di sebelah dalam
  • Beragam ornamen perhiasan

Sering pula dikenakan kebaya, kain penutup dada, dan alas kaki sebagai pelengkap.

Sebutan kekerabatan keluarga orang asli Bali juga mempunyai silsilah khas, yaitu silsilah anak pertama selalu dengan sebutan nama keluarga Wayan, Putu, atau Gede, yang kemudian dikuti oleh nama panggilan. Lahir anak kedua selalu diberi sebutan nama keluarga Made atau Kadek. Kelahiran berikutnya anak ketiga diberi sebutan Nyoman atau Komang. Sedangkan kelahiran anak keempat diberi nama Ketut.

Sedangkan bagi masyarakat asli Bali bila anaknya lebih dari empat, untuk anak kelima kembali lagi dari awal dengan penyebutan Wayan atau Putu lagi dan seterusnya berulang-ulang untuk nama berikutnya. Untuk membedakan jenis kelamin dari silsilah ini, sering namanya diawali dengan “I” untuk laki-laki, dan “Ni” untuk perempuan, contohnya “I Wayan”. Silsilah ini tidak menjadi aturan untuk pewaris dari keluarga, pewaris akan menjadi hak sepenuhnya laki-laki karena harus menanggung seluruh biaya kegiatan upacara adat leluhurnya.

Bila kita melihat maksud dan tujuan dari penyampaian yang tersirat dalam budaya masyarakat asli Bali, ada pelajaran yang dapat kita ambil didalamnya, yaitu kita harus selalu dapat menghormati kepada yang lebih tua. Dengan kata lain budaya merupakan pembelajaran norma-norma kehidupan yang tidak terlepas dari pada apa yang diajarkan oleh Tuhan kepada kita dalam hidup di alam semesta ini.

  • Budaya ( seni, nilai dan norma )

Kebudayaan masyarakat Bali sangat beragam sekali, seperti dalam system kekerabatan berpegang kepada prinsip patrilineal (purusa) yang amat dipengaruhi  dan sistem pelapisan sosial yang disebut wangsa (kasta), dalam kehidupan religi, dalam satu garis keturunan mereka memiliki Dadia, pura sebagai tempat persembahyangan dalam satu garis keluarga. Pakaian daerah Bali juga sangat bervariasi memiliki ciri khas symbolik dan ornamen sesuai kegiatan upacara dan daerahnya. Seni tari, apresiasi seni di Bali dikelompokkan menjadi 3 bagian; tari Wali merupakan tari sakral yang dipentaskan di pura untuk keperluan upacara, tari Bebali tari pertunjukkan  yang dipentaskan di pura juga bisa ditonton oleh para pengunjung, tari balih-balihan seni tari  yang paling banyak kita temukan diperuntukkan untuk hiburan dan tontonan wisata. Seni musik Bali seperti gamelan, jegog dan genggong. Percaya adanya karma phala.

Budaya dan tradisi di Bali, memang sangat dipengaruhi oleh agama dan berkaitan dengan ritual, sampai sekarang masih kental dan kuat, seperti upacara ngaben yaitu prosesi upacara untuk orang meninggal di Bali, hari Raya Nyepi yaitu upacara perayaan menyambut tahun Bari Caka bagi umat Hindu. Dalam budaya kehidupan sehari-hari, Bali menjungnjung tinggi nilai-nilai keseimbangan dan harmonisasi dengan semua aspek , yang dikenal dengan Tri Hita Karana yang artinya Tiga Penyebab Kebahagiaan, yag dimaksud adalah menjaga hubungan yang harmonis dengan Tuhan, sesama (manusia) dan lingkungan.  Apabila manusia mampu menjaga hubungan tersebut maka kesejahteraan akan terwujud. Nilai dan budaya tradisi Bali kental dengan nilai tata krama yaitu sikap santun yang disepakati, nilai gotong royong antara sesama, kerja bakti dengan tujuan upacara agama dan sopan santun dalam pergaulan beda jenis kelamin.

Musik

 

Seperangkat gamelan Bali.

Musik tradisional Bali memiliki kesamaan dengan musik tradisional di banyak daerah lainnya di Indonesia, misalnya dalam penggunaan gamelan dan berbagai alat musik tabuh lainnya. Meskipun demikian, terdapat kekhasan dalam teknik memainkan dan gubahannya, misalnya dalam bentuk kecak, yaitu sebentuk nyanyian yang konon menirukan suara kera. Demikian pula beragam gamelan yang dimainkan pun memiliki keunikan, misalnya gamelan jegog, gamelan gong gede, gamelan gambang, gamelan selunding dan gamelan Semar Pegulingan. Ada pula musik Angklung dimainkan untuk upacara ngaben serta musik Bebonangan dimainkan dalam berbagai upacara lainnya.

Terdapat bentuk modern dari musik tradisional Bali, misalnya Gamelan Gong Kebyar yang merupakan musik tarian yang dikembangkan pada masa penjajahan Belanda serta Joged Bumbung yang mulai populer di Bali sejak era tahun 1950-an. Umumnya musik Bali merupakan kombinasi dari berbagai alat musik perkusi metal (metalofon), gong dan perkusi kayu (xilofon). Karena hubungan sosial, politik dan budaya, musik tradisional Bali atau permainan gamelan gaya Bali memberikan pengaruh atau saling memengaruhi daerah budaya di sekitarnya, misalnya pada musik tradisional masyarakat Banyuwangi serta musik tradisional masyarakat Lombok.

Tari

Seni tari Bali pada umumnya dapat dikatagorikan menjadi tiga kelompok, yaitu wali atau seni tari pertunjukan sakral, bebali atau seni tari pertunjukan untuk upacara dan juga untuk pengunjung dan balih-balihan atau seni tari untuk hiburan pengunjung.[7]

Pakar seni tari Bali I Made Bandem[8] pada awal tahun 1980-an pernah menggolongkan tari-tarian Bali tersebut; antara lain yang tergolong ke dalam wali misalnya Berutuk, Sang Hyang Dedari, Rejang dan Baris Gede, bebali antara lain ialah Gambuh, Topeng Pajegan dan Wayang Wong, sedangkan balih-balihan antara lain ialah Legong, Parwa, Arja, Prembon dan Joged serta berbagai koreografi tari modern lainnya.

Salah satu tarian yang sangat populer bagi para wisatawan ialah Tari Kecak dan Tari Pendet. Sekitar tahun 1930-an, Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari Kecak berdasarkan tradisi Sang Hyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak memopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya

Penari belia sedang menarikan Tari Belibis, koreografi kontemporer karya Ni Luh Suasthi Bandem.

 

Pertunjukan Tari Kecak.

Tarian wali

Tarian bebali

Tarian balih-balihan

Rumah Adat

Rumah Bali yang sesuai dengan aturan Asta Kosala Kosali (bagian Weda yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan, layaknya Feng Shui dalam Budaya China)

Menurut filosofi masyarakat Bali, kedinamisan dalam hidup akan tercapai apabila terwujudnya hubungan yang harmonis antara aspek pawongan, palemahan dan parahyangan. Untuk itu pembangunan sebuah rumah harus meliputi aspek-aspek tersebut atau yang biasa disebut Tri Hita Karana. Pawongan merupakan para penghuni rumah. Palemahan berarti harus ada hubungan yang baik antara penghuni rumah dan lingkungannya.

Pada umumnya bangunan atau arsitektur tradisional daerah Bali selalu dipenuhi hiasan, berupa ukiran, peralatan serta pemberian warna. Ragam hias tersebut mengandung arti tertentu sebagai ungkapan keindahan simbol-simbol dan penyampaian komunikasi. Bentuk-bentuk ragam hias dari jenis fauna juga berfungsi sebagai simbol-simbol ritual yang ditampilkan dalam patung.

2. STRATIFIKASI SOCIAL

Seorang Bali b e r k a s t a Brahmana mempunyai kedudukan terhormat di Bali, namun apabila ia pindah ke Jakarta menjadi buruh, ia memperoleh kedudukan rendah. Maka, ia harus menyesuaikan diri dengan aturan kelompok masyarakat di Jakarta.

Sebenarnya penduduk (suku) Bali berdasarkan waktu kedatangan dan bermukim di Bali, itu dibagi menjadi tiga kelompok masyarakat. Pertama itu disebut dengan masyarakat Bali Mula, merupakan masyarakat yang memang mula-mula bermukim di Bali. Kedua, adalah masyarakat Bali Aga yang merupakan masyarakat imigran dari India yang masuk ke Indonesia termasuk ke pulau Bali dan yang terakhir adalah adalah Bali Arya adalah kelompok masyarakat Bali yang berasal dari kerajaan Majapahit ketika menguasai Bali sekitar abad XIV Masehi. Masing-masing kelompok masyarakat tersebut membawa berbagai pengaruh terhadap perkembangan kebudayaan Bali ketika mereka datang dan bermukim di pulau Bali.

Murid –murid Rsi Markandya yang dikenal dengan sebutan Wong Aga, ada yang menetap di desa-desa di pulau Bali yang dilalui oleh Rsi Markandya. Akhirnya terjadilah pembauran antara Wong Aga dengan orang –orang Bali Mula. Di tengah pembauran itu para Wong Aga melakukan berbagai penyebaran kebudayaan, seperti budaya bercocok tanam secara teratur dan penyebaran ajaran agama Hindu seperti apa yang diajarkan oleh Rsi Markandya kepada mereka. Akhirnya agama Hindu pun diterima dengan baik oleh orang –orang Bali Mula. Hasil pembauran antara orang Bali Mula dengan Wong Aga itu menghasilkan orang Bali “tipe baru” yang dikenal dengan orang Bali Aga. Jadi, kedatangan Wong Aga bersama Rsi Markandya ke Bali, membawa pengaruh besar terhadap sistem kepercayaan masyarakat Bali Mula, yaitu yang awalnya hanya mengenal animisme mulai mengenal sebuah agama yaitu agama Hindu. Selain itu, ada sumber yang mengatakan, masuknya Rsi Markandya dan Wong Aga yang notabene merupakan imigran dari India membawa pengaruh terhadap perubahan sistem pemerintahan pada masyarakat Bali Mula. Yaitu masyarakat Bali Mula mulai mengenal sistem pemerintahan kerajaan dengan raja sebagai pemimpinnya.

orang Bali Arya adalah orang yang datang ke Bali ketika, Bali dikuasai oleh kerajaan Majapahit pada tahun 1343 M. Tujuan dari kerajaan Majapahit menguasai Bali tiada lain adalah untuk menjalankan misi dari Patih kerajaan tersebut yaitu Gajah Mada yang bertekad mempersatukan nusantara di bawah naungan kerajaan Majapahit, yang sekarang misi Patih Gajah Mada ini dikenal dengan Sumpah Palapa. Penaklukan Bali oleh Majapahit ini, menimbulkan ketidakpuasan dari para raja-raja Bali Aga. Ketidakpuasan ini disebabkan karena sikap Majapahit yang angkuh dan sombong sebagai pemenang dan kurang bijaksana. Timbullah pemberontakan. Karena merasa tak mampu menandingi kekuatan Majapahit, para raja-raja Bali Aga beserta keturunannya mengungsi ke daerah-daerah pegunungan. Kemudian, setelah berhasil menguasai, Majapahit melakukan beberapa reformasi pada sistem kemasyarakatan Bali, salah satunya pada stratifikasi atau pelapisan sosial. Sebelum dikuasai oleh Majapahit, sistem pelapisan sosial pada masyarakat Bali Aga adalah berupa sistem warna, dimana penggolongan masyarakat didasarkan atas profesi yaitu Brahmana, Ksatriya, Weisya, Sudra dan budak. Namun, setelah dikuasai Majapahit, sistem warna itu diganti dengan sistem wangsa yaitu penggolongan berdasarkan keturunan. Pembedaan berdasarkan keturunan ini bertujuan agar dapat memperkokoh kekuasaan Majapahit di Bali. Hal ini diperkuat pula dengan peraturan undang-undang yang dibuat oleh Majapahit yang mengakibatkan kedudukan Majapahit semakin kuat dan pembatasan kebebasan interaksi antar golongan tersebut.

Beberapa perbedaan yang terdapat pada orang Bali Aga dan Bali Arya. Pertama, desa-desa Bali Aga dipimpin secara berkelompok, namun pada desa Bali Arya, pemerintahan dipimpin secara perorangan oleh kepala desa. Kedua, desa Bali Aga tidak mengenal sistem wangsa sedangkan desa Bali Arya mengenal sistem wangsa. Dari segi pengaruh Hindu Majapahit, pada masyarakat Bali Aga tidak terlalu kuat, namun pada masyarakat Bali Arya sangat kuat. Kemudian dari segi fisik, kulit orang –orang Bali Arya cenderung lebih gelap dibandingkan Bali Aga.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s