hikayat

Hikayat Keramat Bujang

( Kisah Cerita Legenda Pulau Belitung)

 

 

Di satu bagian hutan, dikenal dengan nama Ai’ Membiding, Desa Bantan, terdapat dua buah makam, yaitu Makam Tu’ Rangga Tuban dan isterinya dan di Gunung/Bukit Bujang terdapat pula makam, dikenal sebagai Keramat Bujang. Dari dan untuk ketiga tokoh ini diceritakan tentang kehebatan Tu’ Rangga Tuban dan Bujang.

            MENURUT cerita yang berkembang di daerah Bantan, Tu’ Rangga Tuban berasal dari Tanah Jawa. Beliau mempunyai dua isteri dan seorang anak angkat bernama Bujang. Kehebatan Tu’ Rangga Tuban ini sangat dikenal dan termasyhur ke seluruh wiayah sekitar Bantan Kecik.

            Dalam kesehariannya, di lengan kiri beliau selalu terpasang sebuah batu asah yang dikenakan jika akan bertempur menghadapi musuh-musuh yang datang dari sungai dekat Kampung Bantan, yaitu Ai’ Sapai. Batu asah ini sekarang masih ada dan jika kita akan mengasah parang di daerah tersebut memang parangnya akan cepat tajam tapi selalu mengakibatkan luka bagi pemiliknya atau orang yang mengasah pisau di tempat itu.

            Kehebatan lainnya adalah kepandaian Tu’ Rangga Tuban membuat perahu sehingga di daerah Bantan ini ada satu tempat bernama Lemong Perahu, yaitu tempat bekas Tu’ Rangga Tuban membuat perahu.

            Satu hari beliau mengadakan perjalanan ke Palembang, menggunakan perahu buatannya sendiri. Di sana Tu’ Rangga Tuban sempat membeli seekor burung puyuh yang sangat lincah. Tu’ Rangga Tuban direpotkan sekali dengan burung tersebut sehingga pada waktu jam tidur tidak bisa sekejap pun hanya untuk menjaga agar burung tersebut jangan lepas ke laut. Akibatnya Tu’ Rangga Tuban baru tidur pada siang hari, sementara penjagaan burung itu diserahkan kepada awak perahunya.

            Setibanya di Belitung Tu’ Rangga Tuban pun segera pulang dan langsung mengurus burung puyuhnya. Satu ketika, saat sedang tidak di rumah, burung itu lepas dari sangkarnya. Lalu Tu’ Rangga Tuban pun berusaha untuk menangkapnya kembali. Disusunnya batu-batu besar untuk menghalangi burung itu meloncat dan batu-batu ini sekarang masih ada tersusun sedemikian rupa sehingga burung puyuh tidak bisa melompatinya. Sekarang penduduk setempat masih percaya bahwa orang yang mengencingi batu tersebut akan jatuh sakit. Begitulah di antara kehebatan Rangga Tuban.

            Bagaimana dengan kehebatan anak angkatnya, Bujang? Pendek kata semua kehebatan-kehebatan Rangga Tuban diturunkan kepada Bujang, sehingga ia bisa menandingi ayah angkatnya itu. Namun, dasar anak berotot pendekar, dengan berlatih sendiri, kehebatan Bujang kemudian malah melebihi ayah angkatnya.

Melihat hal itu, timbullah rasa takut dan khawatir dalam diri Rangga Tuban. Karenanya muncul niat jahatnya untuk menghabisi Bujang. Apalagi difikirnya toh Bujang bukan anak kandungnya sendiri. Ia hanyalah seorang anak yang diambilnya dari kampung sebelah yang sebagian penduduknya adalah orang-orang jahat, berhasil dimusnahkannya.

            Karena niat buruknya itu Bujang pun mendapat perlakuan lain dari biasanya. Kalau selama ini Bujang benar-benar diperhatikan pergaulannya dengan penduduk setempat, sekarang ia diberi kekebasan sama sekali. Melihat perubahan itu Bujang pun jadi curiga. Setelah mengingat-ingat apa yang telah ia lakukan kepada ayah angkatnya, ia pun merasa tak punya kesalahan apapun. Ia selalu menghormati ayahnya, walau tahu dari ayahnya sendiri ia hanya anak angkat. “Barangkali beliau benci merasa tersaingi dengan kehebatannya dalam ilmu silat atau pun kesaktian lainnya,” begitu dugaan Bujang.

            Tu’ Rangga Tuban juga selalu mencari-cari seteru dengan anak angkatnya itu. Ada-ada saja yang dilakukannya kepada Bujang. Mulai menyembunyikan parang milik Bujang hingga membuang tombaknya. Namun, Bujang tak pernah marah.

            Satu ketika Bujang tidak diberi makan sama sekali oleh Rangga Tuban dan isterinya. Di sinilah kemudian Bujang merasa kalah. Bagaimana pun ia adalah anak penurut dan selalu mengikuti perintah orang tuanya. Misalnya, ia baru akan makan setelah disuruh orang tuanya seusai mereka makan. Tapi, kali itu tidak. Bujang pun kelaparan. Karena tubuhnya melemah, ia pun tertidur sambil menahan lapar.

            “Berhasil siasatku,” begitu latah Rangga Tuban. Dengan demikian, pikirnya, semua harta milik Bujang yang ia peroleh dari perahu-perahu yang dikalahkannya akan jatuh ke tangannya. Untuk menyembunyikan niat jahatnya itu, Bujang yang sedang tertidur lelap pun dibawanya ke ume mereka dan ditidurkan di pondok peristirahatan yang ada di ume tersebut.

            Malam harinya pondok tersebut dibakarnya. Rangga Tuban pun mengatur seolah-olah pondok itu terbakar tanpa disengaja. Melihat pondok yang terbakar tersebut, berbondong-bondong penduduk sekitar memadamkan api yang makin mengganas.

            Setelah api berhasil ditaklukkan, apa yang terjadi dengan Bujang? Begitu api padam, tanpa diduga-duga, Bujang keluar dari puing pondok yang masih berasap. Setelah tahu yang terbakar pondok ume-nya bukan rumah tempat ia tinggal bersama kedua orang tuanya, Bujang pun sadar bahwa ayahnya lah yang membawanya ke pondok itu, lalu membakarnya.

            Bujang betul-betul heran dengan sikap ayahnya itu. Yang terfikir olehnya, mungkin ayahnya merasa tak mau dikalahkan siapapun termasuk anaknya sendiri.

            Untuk mepercepat kehendak ayahnya itu Bujang pun angkat bicara, “Ayah, sebelumnya aku mohon maaf. Aku sudah tahu sejak lama Ayah menginginkan nyawaku. Tapi, untuk itu, tak akan ada gunanya dengan mengeluarkan semua ilmu milik ayah. Sebab aku baru akan mati jika Ayah menusukkan ujung daun lalang ke jari manisku.”

            Tapi, lanjut Bujang, sebelum dilakukan ia meminta agar permohonannya dikabulkan. “Kuburkan aku di antara langit dan bumi bersama-sama dengan hartaku yang ada di rumah. Lalu masukkan lah ke dalam sebuah tajau dan kuburkanlah di sebelah sisi kiriku. Dan, ampunkan semua kesalahanku,” itulah permintaan Bujang.

             Setelah mendengar permintaan dan rahasia kelemahan anak angkatnya itu, segeralah Rangga Tuban mengambil ujung lalang lalu menusukkannya ke jari manis Bujang. Setelah itu Bujang pun meninggal dunia.

            Sesuai permintaan Bujang, Rangga Tuban pun menguburkannya di atas sebuah bukit bersama-sama dengan tajau (berisi emas) di sisi kirinya. Dengan demikian habislah harapan Tangga Tuban untuk memiliki harta Bujang.

            Sekarang tempat dimana Bujang dikuburkan dikenal dengan nama Bukit Bujang dan kuburannya dikeramatkan orang dengan sebutan Keramat Bujang.

            Mengenai harta Bujang yang ikut dikuburkan, saat ini, dikenal dengan tempayan Bujang. Pernah suatu waktu, puluhan tahun silam, ada dua orang lelaki berniat meminta harta tersebut. Maka bertapalah kedua orang itu di Keramat Bujang. Setelah tiga hari tiga malam, datanglah roh Bujang menghampiri mereka sambil berkata, “Kau boleh ambil hartaku, tapi harus menyerahkan darah orang yang kau sayangi.” Sekejap kemudian raiblah roh Bujang.

            Setelah berfikir sesaat kedua orang itupun kembali ke rumahnya sambil memikirkan apakah mereka harus menyerahkan darah orang yang mereka sayangi atau tidak mendapatkan harta yang mereka idam-idamkan.

            Akhirnya, kedua orang ini pun menemukan jalan keluar. Yaitu, memalsukan darah segar dengan pati samak (getah samak yang berwarna merah mirip darah, red.). Untuk melaksanakan rencananya, segeralah mereka menebangi batang samak di sekitar tempat tersebut dan mengumpulkannya dalam sebuah wajan dan segera menyerahkannya ke keramat Bujang.

            Tak lama kemudian datanglah roh Bujang dan memberi petunjuk agar menggali sebelah kiri kuburan tersebut. Sekitar tiga jam menggali tampak tutup tembikar yang tak lain dan tak bukan adalah tutup tempayan Bujang. Mereka pun segera melebarkan galian hingga akhirnya menemukan tempayan yang utuh dan mengikatkannya pada sebuah pikulan agar mudah diangkat. Setelah semuanya beres, dengan bersemangat, mereka langsung turun dari bukit itu.

            Setibanya di Tebat Bedong, saking gembiranya, pemikul yang berada di depan berkata, “Eh, rupanya beliau yang di atas itu bisa juga dibohongi. Pakai pati samak pun kita dapat mengambil harta karunnya, tak perlu pakai darah segar segala.”
 
            Sekejap setelah pemikul di depan mengakhiri ucapannya, aneh bian ajaib, pengikat tempayan itu putus dan mengelinding ke atas bukit serta masuk kembali ke tempat semula. Sementara tanah bekas galian bergerak sendiri menutup lobang galian. Hingga saat ini tak satu pun ada yang berani meminta harta keramat Bujang tersebut.

Advertisements

sosio

NAMA                        : OLFERA DILAFIANTI

KELAS                       : XI IPS 2

NO ABSEN                : 28

MAPEL                      : SOSIOLOGI

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas berkat dan hidayahnya saya dapat menyelesaikan sebuah karya tulis ilmiah sejarah yang didasarkan pada study lapangan yang telah saya ikuti.

Tiada gading yang tak retak, demikian pula dengan karya tulis ilmiah ini tentu masih banyak kekurangan. Untuk itu, kritik dan saran maupun masukan dari semua pihak sangat saya harapkan demi kesempurnaan karya tulis ilmiah ini.

Semoga karya tulis ilmiah ini bermanfaat bagi kita dan dapat memberikan pengetahuan bagi kita semua serta berguna bagi siswa siswi disekolah maupun dimasyarakat.

 

 

 

DAFTAR ISI


 

PENDAHULUAN

1.LATAR BELAKANG MASALAH

Bali, juga dikenali sebagai Pulau Dewata, ialah sebuah pulau di Indonesia yang terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Bali terkenal sebagai destinasi pelancongan, khususnya bagi orang Jepun dan Australia. Dalam setiap bangsa dipastikan memiliki adat dan kebudayaannya masing-masing. Untuk itu, mereka memiliki kewajiban untuk melestarikan dan mengimplementasikan segala adat dan kebudayaannya tersebut secara sungguh-sungguh. Demikian halnya dengan adat dan kebudayaan yang ada di Pulau Dewata Bali yang hingga kinipun masih dipegang teguh secara konsisten oleh masyarakatnya.

Adat dan kebudayaan yang ada pada masyarakat Bali sangat erat kaitannya dengan agama dan kehidupan relijius masyarakat Hindu. Keduanya telah memiliki akar sejarah yang demikian panjang dan mencerminkan konfigurasi ekspresif dengan dominasi nilai dan filosofi relijius agama Hindu. Dalam konfigurasi tersebut tertuang aspek berupa esensi keagamaan, pola kehidupan, lembaga kemasyarakatan, maupun kesenian yang ada didalam masyarakatBali.

2. RUMUSAN MASALAH

  • Bagaimana struktur social yang ada di pada masyarakat Bali yang berkaitan dengan differensiasi sosial ( dalam hal religi, profesi, jenis kelamin / pembagian peran antara laki laki dan perempuan, dan budaya ) ?
  • Bagaimana bentuk dan dasar stratifikasi social pada masyarakat Bali ?

3. TUJUAN PENULISAN

  • Mengetahui struktur social yang ada di pada masyarakat Bali yang berkaitan dengan differensiasi sosial ( dalam hal religi, profesi, jenis kelamin / pembagian peran antara laki laki dan perempuan, dan budaya )
  • Mengetahui bentuk dan dasar stratifikasi social pada masyarakat Bali.

 

 

 

4. MANFAAT PENULISAN

Bisa dijadikan sebagai sumber pengetahuan dan pengalaman bagi siswa mengenai struktur social masyarakat Bali dan memahami penjabaran dari perbedaan struktur social tersebut.

 

 

BAB ISI / PENJABARAN

Kehidupan masyarat asli Bali tercermin dari kehidupan masyarakatnya yang unik dan tidak terlepas dari adat istiadat budaya. Masyarakat yang ramah dengan pola kehidupan yang pluralisme dan tidak terlalu banyak aturan namun penuh kedamaian.

  • Religi atau agama beserta ritual keagamaannya

Mayoritas masyarakat Bali menganut ajaran Hindu yang mempunyai kerangka dasar dengan meliputi tiga hal; filsafat, upacara, dan Tata Susila. Secara hakikat ajaran Bindu merupakan Panca Cradha yang memiliki arti lima keyakinan yakni Widhi Cradha ialah keyakinan akan adanya Tuhan Yang Maha Esa, Atma Cradha ialah keyakinan akan adanya atman atau jiwa pada setiap makhluk, Karma Pala Cradha ialah keyakinan terhadap hukum perbuatan, Punarbhawa Cradha adalah keyakinan terhadap adanya reinkarnasi atau kelahiran kembali setelah kematian, Moksa Cradha adalah keyakinan terhadap moksa yaitu kebahagiaan yang kekal abadi.

Kebudayaan masyarakat Bali yang diwariskan dari jaman pra sejarah sampai sekarang sangat dipengaruhi oleh keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa atau kehidupan religi beragama masyarakat Bali, seperti keyakinan terhadap Tuhan Yang maha Esa, percaya dengan adanya satu Tuhan yaitu Ida sang Hyang Widi Wasa, tapi dengan manifestasi dan perwujudan yang berbeda-beda sesuai dengan fungsinya (personifikasi) menjadi Dewa dan Dewi, seperti yang ada pada konsep Tri Murti pada ajaran Hindu, pada saat Tuhan menciptakan dunia ini dan segala isinya disebut Dewa Pencipta atau Dewa Brahma, pada saat memelihara dinamakan Dewa Wisnu dan pada saat melebur dinamakan Dewa Siwa.

Keunikan masyarakat Bali dapat dilihat dari garis keturunan derajat, yaitu Kasta Brahmana, Kasta Satria, atau Kasta Sudra.

Kasta Brahmana adalah kasta tertinggi untuk masyarakat Bali,  yang termasuk dalam kasta Brahmana ini adalah kelompok para bangsawan, guru, atau pemuka agama yang dikenal dengan sebutan gelar Ida Bagus untuk laki-laki dan Ida Ayu untuk perempuan atau sering disingkat dayu

Kasta Kesatria adalah golongan menengah, kelompok orang yang mempunyai jiwa kepahlawanan seperti para raja, pejabat daerah, dan tentara. Kasta Kesatri ini dikenal dengan sebutan nama gelarnya Cokarda, Anak Agung, Ratu, dan Prebagus untuk laki-laki; sedangkan sebutan untuk perempuan Anak Agung Isti atau Dewa Ayu.

Kasta Sudra yaitu kasta yang paling rendah kelompok orang kebanyakan yang didominasi profesi pengemis, pengangguran, dan karyawan tingkat bawah. Sebutan kasta, sudah menjadi penting dalam kehidupan masyarakat Bali, hal ini sebagai bentuk kehormatan terhadap kasta yang lebih tinggi. Selain itu kasta di Bali juga mengenal sebutan kekerabatan atau silsilah keluarga. Dan hal ini menjadi penting untuk penghormatan seseorang terhadap yang lainnya atau antara yang lebih muda kepada yang lebih tua.

  • ·         Profesi atau mata pencaharian

Mata pencarian pokok dari orang Bali adalah bertani. Dapat dikatakan 70% dari mereka berpenghidupan bercocok tanam, dan hanya 30% hidup dari peternakan, berdagang, menjadi buruh, pegawai, dan lain-lain. Berhubung dengan perbedaan-perbedaan lingkungan alam dan iklim diberbagai tempat di Bali, maka terdapatlah perbedaan dalam pengolahan tanah untuk bercocok tanam itu.

Di daerah Bali bagian utara, tanah dataran sedikit curah hujan, maka dari itu bercocok tanam relatif lebihterbatas daripada di Bali bagian selatan. Di samping bercocok tanam di sawah, di Bali bagian utara sebelah timur dan sebelah baratnya ada usaha menanam buah-buahan ( jeruk ),palawija, kelapa dan kopi ( di pegunungan ). Kebun kopi rakyat menurut laporan Jawatan Pertanian meliputi daerah luas 26.657Ha dan terutama terdapat di pegunungan daerah Buleleng ( Singaraja ) dan Tabanan. Kadangkala letaknya sangat tinggi dan sering sukar didatangi. Ada dua jenis kopi yang ditanam, yaitu jenis Robusta dan Arabika. Kedua-duanya diexpor baik keluar Bali maupun keluar negeri dan ini tidak sedikit artinya bagi perekonomian rakyat. Dilihat dari segi hasilnya, maka sesudah kopi, penghasilan kelapa merupakan hal yang penting. Luas-luas kebun kelapa menurut Jawatan Pertanian meliputi daerah yang luasnya 6.650,50Ha. Kecuali untuk keperluan rakyat sendiri, kelapa juga diexpor. Pohon-pohon kelapa kecuali di kebun-kebun atau diladang ditanam juga di halaman rumah-rumah. Terutaman di daerah pantai banyak orang menananm pohon kelapa. Selain untuk membuat kopra, maka batok serta serabut kelapa dipergunakan sebagai bahan untuk kerajinan rakyat. Adapun hasil penanaman buah-buahan seperti jeruk ( terutama di Kabupaten Buleleng ) serta salak ( di Karangasem ), diexpor keluar pulau, terutama ke kota-kota besar di Jawa.Di daerah Bali bagian selatan yang merupakan daerah dataran yang lebih luas yang pada umumnya dengan curah hujan yang cukup baik, penduduk terutama mengusahakan bercocok tanam disawah. Sedapat mungkin apabila keadaan mengijinkan, maka penduduk berusaha terutama bercocok tanam di sawah. Untuk kepentingan ini maka diperlukanlah pengaturan air yang sebaik-baiknya. Berkembanglah atas usaha rakyat sistem subak yang mengatur perairan dan penanaman di sawah-sawah. Apabila air cukup, maka ditanamlah padi yang terus menerus, tanpa di selingi oleh palawija ( sistem demikian yang di sebut di Bali tulak sumur ). Sebaliknya pabila keadaan kurang cukup, maka diadakan giliran penanaman padi dan palawija ( sistem ini di sebut sistem kertamasa ). Semua cara tersebut di atur oleh organisasi pengairan rakyat, subak.

Subak mempunyai pengurus yang di kepalai oleh klian subak, anggota serta bagian-bagian bawahan yang mengatur pengairan serta penanaman pada wilayah ssawah tertentu. Di samping itu subak mempunyai juga aspek keagamaan dan untuk ini mempunyai suatu sistem upacara-upacara serta tempat pemujaan sendiri. Dalam hubungan dengan pemerintahan, subak mengenal suatu sistem administrasi dari sedahan hingga sedahan-agung pada tingkat kabupaten. Di daerah-daerah yang karena luas tanah pada umumnya tidak mencukupi keperluan penduduk yang bertambah padat dengan laju yang cepat, terdapat pula sistem penggarapan tanah yang dikerjakan oleh buruh tani. Dahulu sebelum adanya undang-undang yang mengatur hal ini, ada berbagai sistem bagi hasil antara pemilik tanah dan penggarapnya. Di daerah yang airnya kurang atau yang mendapat air dari hujan, maka ditanamlah padi gaga, jagung, kacang-kacangan dan sebagainya. Demikian keadaan makan penduduk Bali di berbagai daerah berbeda-beda, ada yang makan beras tulen dan ada yang makan beras campuran ( dengan jagung atau dengan ketela rambat, ialah cacah )

Kecuali bercocok tanam, berternak juga merupakan uasaha yang penting dalam masyarakat pedesaan di Bali. Binatang peliaraan yang terutama adalah babi dan sapi. Babi dipelihara terutama oleh kaum wanita biasanya sebagai sambilan dalam kehidupan rumah tangga, sedangkan sapi untuk sebagian dipergunakan dalam hubungan dengan pertanian, sebagai tenaga pembantu di sawah atau di ladang, dan untuk sebagian dipelihara untuk dagingnya. Ada juga babi dan sapi yang di export keluar negeri seperti ke Hongkong dan Singapura. Boleh dikatakan bahwa setiap rumah tangga di Bali memelihara babi sebagai sebagai sambilan, karena pengembiakannya  relatif lebih cepat dan lebih mudah daripada sapi. Sedangkan untuk pemeliharaan sapi yang baik terdapat pada daerah-daerah tertentu di Bali, yaitu menurut letaknya. Daerah yang baik adalah misalnya derah kecamatan Penebel dan Marga ( Tabanan ), karena daerah-daerah tersebut bergunung-gunung dan mendapat hujan yang cukup, sehingga banyak tanah yang tidak di pergunakan untuk usaha pertanian sehingga dapat dipakai untuk memelihara rumput yang berguna bagi ternak. Di samping sapi dan babi, ada juga dipelihara ternak kerbau, kuda, kambing, tetapi hasilnya relatif jauh lebih sedikiT.

Suatu mata pencaharian lain adalah perikanan, baik perikanan darat maupun perikanan laut. Perikanan darat boleh dikatakan umumnya merupakan mata pencaharian sambilan dari penanaman padi di sawah, terutama di daerah-daerah dengan cukup air, artinya air sepanjang masa itu ada. Jenis ikan yang dipelihara adalah ikan mas, karper dan mujair.

Di Bali terdapat pula cukup banyak industri dan kerajinan rumah tangga usaha perseorangan,atau usaha setengah besar, yang meliputi kerajinan pembuatan benda-benda anyaman, patung, kain tenun,benda-benda mas, perak dan besi,perusahaan meesin-mesin, percetakan, pabrik kopi, pabrik rokok, pabrik makanan kaleng, tekstil, pemintalan, dan lain-lain. Usaha dalam bidang ini tentu memberikan lapangan kerja yang agak luas kepada penduduk. Oleh karena perdagangan di Bali menarik dalam bidang pemandangannya, aktivitas-aktivitas adat istiadat, upacara dan kesenian, maka banyaklah wisatawan baik dari dalam negeri maupun luar negeri mengunjungi Bali. Untuk menunjang kepariwisataan, maka timbullah perusahaan-perusahaan seperti perhotelan, taxi, travel bureau, took kesenian dan sebaginya. Terutama di derah-daerah Denpasar ( Badung ), Gianyar, Bangli, dan Tabanan. Kepariwisataan telah merangsang adanya pengembangan kreasi-kreasi kesenian baik seni tabuh, seni tari maupun seni rupa.

           

  • Jenis kelamin / pembagian peran antara laki laki dan perempuan

 

 

Pola kehidupan masyarakat Bali sangat rigid dan terikat pada norma-norma baik agama maupun sosial. Dalam konteks norma agama misalnya, setiap pemeluk Hindu Bali wajib untuk melaksanakan sembahyang atau pemujaan pada pura tertentu diwajibkan pada satu tempat tinggal bersama dalam komunitas, dalam kepemilikan tanah pertanian diwajibkan dalam satu subak tertentu, diwajibkan dalam status sosial berdasarkan warna, pada ikatan kekerabatan diwajibkan menurut prinsip patrilineal.

Pakaian daerah Bali sesungguhnya sangat bervariasi, meskipun secara selintas kelihatannya sama. Masing-masing daerah di Bali mempunyai ciri khas simbolik dan ornamen, berdasarkan kegiatan/upacara, jenis kelamin dan umur penggunanya. Status sosial dan ekonomi seseorang dapat diketahui berdasarkan corak busana dan ornamen perhiasan yang dipakainya.

Pria

Anak-anak Ubud mengenakan udeng, kemeja putih dan kain.

Busana tradisional pria umumnya terdiri dari:

  • Udeng (ikat kepala)
  • Kain kampuh
  • Umpal (selendang pengikat)
  • Kain wastra (kemben)
  • Sabuk
  • Keris
  • Beragam ornamen perhiasan

Sering pula dikenakan baju kemeja, jas dan alas kaki sebagai pelengkap.

Wanita

 

Para penari cilik mengenakan gelung, songket dan kain prada.

Busana tradisional wanita umumnya terdiri dari:

  • Gelung (sanggul)
  • Sesenteng (kemben songket)
  • Kain wastra
  • Sabuk prada (stagen), membelit pinggul dan dada
  • Selendang songket bahu ke bawah
  • Kain tapih atau sinjang, di sebelah dalam
  • Beragam ornamen perhiasan

Sering pula dikenakan kebaya, kain penutup dada, dan alas kaki sebagai pelengkap.

Sebutan kekerabatan keluarga orang asli Bali juga mempunyai silsilah khas, yaitu silsilah anak pertama selalu dengan sebutan nama keluarga Wayan, Putu, atau Gede, yang kemudian dikuti oleh nama panggilan. Lahir anak kedua selalu diberi sebutan nama keluarga Made atau Kadek. Kelahiran berikutnya anak ketiga diberi sebutan Nyoman atau Komang. Sedangkan kelahiran anak keempat diberi nama Ketut.

Sedangkan bagi masyarakat asli Bali bila anaknya lebih dari empat, untuk anak kelima kembali lagi dari awal dengan penyebutan Wayan atau Putu lagi dan seterusnya berulang-ulang untuk nama berikutnya. Untuk membedakan jenis kelamin dari silsilah ini, sering namanya diawali dengan “I” untuk laki-laki, dan “Ni” untuk perempuan, contohnya “I Wayan”. Silsilah ini tidak menjadi aturan untuk pewaris dari keluarga, pewaris akan menjadi hak sepenuhnya laki-laki karena harus menanggung seluruh biaya kegiatan upacara adat leluhurnya.

Bila kita melihat maksud dan tujuan dari penyampaian yang tersirat dalam budaya masyarakat asli Bali, ada pelajaran yang dapat kita ambil didalamnya, yaitu kita harus selalu dapat menghormati kepada yang lebih tua. Dengan kata lain budaya merupakan pembelajaran norma-norma kehidupan yang tidak terlepas dari pada apa yang diajarkan oleh Tuhan kepada kita dalam hidup di alam semesta ini.

  • Budaya ( seni, nilai dan norma )

Kebudayaan masyarakat Bali sangat beragam sekali, seperti dalam system kekerabatan berpegang kepada prinsip patrilineal (purusa) yang amat dipengaruhi  dan sistem pelapisan sosial yang disebut wangsa (kasta), dalam kehidupan religi, dalam satu garis keturunan mereka memiliki Dadia, pura sebagai tempat persembahyangan dalam satu garis keluarga. Pakaian daerah Bali juga sangat bervariasi memiliki ciri khas symbolik dan ornamen sesuai kegiatan upacara dan daerahnya. Seni tari, apresiasi seni di Bali dikelompokkan menjadi 3 bagian; tari Wali merupakan tari sakral yang dipentaskan di pura untuk keperluan upacara, tari Bebali tari pertunjukkan  yang dipentaskan di pura juga bisa ditonton oleh para pengunjung, tari balih-balihan seni tari  yang paling banyak kita temukan diperuntukkan untuk hiburan dan tontonan wisata. Seni musik Bali seperti gamelan, jegog dan genggong. Percaya adanya karma phala.

Budaya dan tradisi di Bali, memang sangat dipengaruhi oleh agama dan berkaitan dengan ritual, sampai sekarang masih kental dan kuat, seperti upacara ngaben yaitu prosesi upacara untuk orang meninggal di Bali, hari Raya Nyepi yaitu upacara perayaan menyambut tahun Bari Caka bagi umat Hindu. Dalam budaya kehidupan sehari-hari, Bali menjungnjung tinggi nilai-nilai keseimbangan dan harmonisasi dengan semua aspek , yang dikenal dengan Tri Hita Karana yang artinya Tiga Penyebab Kebahagiaan, yag dimaksud adalah menjaga hubungan yang harmonis dengan Tuhan, sesama (manusia) dan lingkungan.  Apabila manusia mampu menjaga hubungan tersebut maka kesejahteraan akan terwujud. Nilai dan budaya tradisi Bali kental dengan nilai tata krama yaitu sikap santun yang disepakati, nilai gotong royong antara sesama, kerja bakti dengan tujuan upacara agama dan sopan santun dalam pergaulan beda jenis kelamin.

Musik

 

Seperangkat gamelan Bali.

Musik tradisional Bali memiliki kesamaan dengan musik tradisional di banyak daerah lainnya di Indonesia, misalnya dalam penggunaan gamelan dan berbagai alat musik tabuh lainnya. Meskipun demikian, terdapat kekhasan dalam teknik memainkan dan gubahannya, misalnya dalam bentuk kecak, yaitu sebentuk nyanyian yang konon menirukan suara kera. Demikian pula beragam gamelan yang dimainkan pun memiliki keunikan, misalnya gamelan jegog, gamelan gong gede, gamelan gambang, gamelan selunding dan gamelan Semar Pegulingan. Ada pula musik Angklung dimainkan untuk upacara ngaben serta musik Bebonangan dimainkan dalam berbagai upacara lainnya.

Terdapat bentuk modern dari musik tradisional Bali, misalnya Gamelan Gong Kebyar yang merupakan musik tarian yang dikembangkan pada masa penjajahan Belanda serta Joged Bumbung yang mulai populer di Bali sejak era tahun 1950-an. Umumnya musik Bali merupakan kombinasi dari berbagai alat musik perkusi metal (metalofon), gong dan perkusi kayu (xilofon). Karena hubungan sosial, politik dan budaya, musik tradisional Bali atau permainan gamelan gaya Bali memberikan pengaruh atau saling memengaruhi daerah budaya di sekitarnya, misalnya pada musik tradisional masyarakat Banyuwangi serta musik tradisional masyarakat Lombok.

Tari

Seni tari Bali pada umumnya dapat dikatagorikan menjadi tiga kelompok, yaitu wali atau seni tari pertunjukan sakral, bebali atau seni tari pertunjukan untuk upacara dan juga untuk pengunjung dan balih-balihan atau seni tari untuk hiburan pengunjung.[7]

Pakar seni tari Bali I Made Bandem[8] pada awal tahun 1980-an pernah menggolongkan tari-tarian Bali tersebut; antara lain yang tergolong ke dalam wali misalnya Berutuk, Sang Hyang Dedari, Rejang dan Baris Gede, bebali antara lain ialah Gambuh, Topeng Pajegan dan Wayang Wong, sedangkan balih-balihan antara lain ialah Legong, Parwa, Arja, Prembon dan Joged serta berbagai koreografi tari modern lainnya.

Salah satu tarian yang sangat populer bagi para wisatawan ialah Tari Kecak dan Tari Pendet. Sekitar tahun 1930-an, Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari Kecak berdasarkan tradisi Sang Hyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak memopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya

Penari belia sedang menarikan Tari Belibis, koreografi kontemporer karya Ni Luh Suasthi Bandem.

 

Pertunjukan Tari Kecak.

Tarian wali

Tarian bebali

Tarian balih-balihan

Rumah Adat

Rumah Bali yang sesuai dengan aturan Asta Kosala Kosali (bagian Weda yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan, layaknya Feng Shui dalam Budaya China)

Menurut filosofi masyarakat Bali, kedinamisan dalam hidup akan tercapai apabila terwujudnya hubungan yang harmonis antara aspek pawongan, palemahan dan parahyangan. Untuk itu pembangunan sebuah rumah harus meliputi aspek-aspek tersebut atau yang biasa disebut Tri Hita Karana. Pawongan merupakan para penghuni rumah. Palemahan berarti harus ada hubungan yang baik antara penghuni rumah dan lingkungannya.

Pada umumnya bangunan atau arsitektur tradisional daerah Bali selalu dipenuhi hiasan, berupa ukiran, peralatan serta pemberian warna. Ragam hias tersebut mengandung arti tertentu sebagai ungkapan keindahan simbol-simbol dan penyampaian komunikasi. Bentuk-bentuk ragam hias dari jenis fauna juga berfungsi sebagai simbol-simbol ritual yang ditampilkan dalam patung.

2. STRATIFIKASI SOCIAL

Seorang Bali b e r k a s t a Brahmana mempunyai kedudukan terhormat di Bali, namun apabila ia pindah ke Jakarta menjadi buruh, ia memperoleh kedudukan rendah. Maka, ia harus menyesuaikan diri dengan aturan kelompok masyarakat di Jakarta.

Sebenarnya penduduk (suku) Bali berdasarkan waktu kedatangan dan bermukim di Bali, itu dibagi menjadi tiga kelompok masyarakat. Pertama itu disebut dengan masyarakat Bali Mula, merupakan masyarakat yang memang mula-mula bermukim di Bali. Kedua, adalah masyarakat Bali Aga yang merupakan masyarakat imigran dari India yang masuk ke Indonesia termasuk ke pulau Bali dan yang terakhir adalah adalah Bali Arya adalah kelompok masyarakat Bali yang berasal dari kerajaan Majapahit ketika menguasai Bali sekitar abad XIV Masehi. Masing-masing kelompok masyarakat tersebut membawa berbagai pengaruh terhadap perkembangan kebudayaan Bali ketika mereka datang dan bermukim di pulau Bali.

Murid –murid Rsi Markandya yang dikenal dengan sebutan Wong Aga, ada yang menetap di desa-desa di pulau Bali yang dilalui oleh Rsi Markandya. Akhirnya terjadilah pembauran antara Wong Aga dengan orang –orang Bali Mula. Di tengah pembauran itu para Wong Aga melakukan berbagai penyebaran kebudayaan, seperti budaya bercocok tanam secara teratur dan penyebaran ajaran agama Hindu seperti apa yang diajarkan oleh Rsi Markandya kepada mereka. Akhirnya agama Hindu pun diterima dengan baik oleh orang –orang Bali Mula. Hasil pembauran antara orang Bali Mula dengan Wong Aga itu menghasilkan orang Bali “tipe baru” yang dikenal dengan orang Bali Aga. Jadi, kedatangan Wong Aga bersama Rsi Markandya ke Bali, membawa pengaruh besar terhadap sistem kepercayaan masyarakat Bali Mula, yaitu yang awalnya hanya mengenal animisme mulai mengenal sebuah agama yaitu agama Hindu. Selain itu, ada sumber yang mengatakan, masuknya Rsi Markandya dan Wong Aga yang notabene merupakan imigran dari India membawa pengaruh terhadap perubahan sistem pemerintahan pada masyarakat Bali Mula. Yaitu masyarakat Bali Mula mulai mengenal sistem pemerintahan kerajaan dengan raja sebagai pemimpinnya.

orang Bali Arya adalah orang yang datang ke Bali ketika, Bali dikuasai oleh kerajaan Majapahit pada tahun 1343 M. Tujuan dari kerajaan Majapahit menguasai Bali tiada lain adalah untuk menjalankan misi dari Patih kerajaan tersebut yaitu Gajah Mada yang bertekad mempersatukan nusantara di bawah naungan kerajaan Majapahit, yang sekarang misi Patih Gajah Mada ini dikenal dengan Sumpah Palapa. Penaklukan Bali oleh Majapahit ini, menimbulkan ketidakpuasan dari para raja-raja Bali Aga. Ketidakpuasan ini disebabkan karena sikap Majapahit yang angkuh dan sombong sebagai pemenang dan kurang bijaksana. Timbullah pemberontakan. Karena merasa tak mampu menandingi kekuatan Majapahit, para raja-raja Bali Aga beserta keturunannya mengungsi ke daerah-daerah pegunungan. Kemudian, setelah berhasil menguasai, Majapahit melakukan beberapa reformasi pada sistem kemasyarakatan Bali, salah satunya pada stratifikasi atau pelapisan sosial. Sebelum dikuasai oleh Majapahit, sistem pelapisan sosial pada masyarakat Bali Aga adalah berupa sistem warna, dimana penggolongan masyarakat didasarkan atas profesi yaitu Brahmana, Ksatriya, Weisya, Sudra dan budak. Namun, setelah dikuasai Majapahit, sistem warna itu diganti dengan sistem wangsa yaitu penggolongan berdasarkan keturunan. Pembedaan berdasarkan keturunan ini bertujuan agar dapat memperkokoh kekuasaan Majapahit di Bali. Hal ini diperkuat pula dengan peraturan undang-undang yang dibuat oleh Majapahit yang mengakibatkan kedudukan Majapahit semakin kuat dan pembatasan kebebasan interaksi antar golongan tersebut.

Beberapa perbedaan yang terdapat pada orang Bali Aga dan Bali Arya. Pertama, desa-desa Bali Aga dipimpin secara berkelompok, namun pada desa Bali Arya, pemerintahan dipimpin secara perorangan oleh kepala desa. Kedua, desa Bali Aga tidak mengenal sistem wangsa sedangkan desa Bali Arya mengenal sistem wangsa. Dari segi pengaruh Hindu Majapahit, pada masyarakat Bali Aga tidak terlalu kuat, namun pada masyarakat Bali Arya sangat kuat. Kemudian dari segi fisik, kulit orang –orang Bali Arya cenderung lebih gelap dibandingkan Bali Aga.

 

 

 

 

lata pengantar

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas berkat dan hidayahnya saya dapat menyelesaikan sebuah karya tulis ilmiah sejarah yang didasarkan pada study lapangan yang telah saya ikuti.

Tiada gading yang tak retak, demikian pula dengan karya tulis ilmiah ini tentu masih banyak kekurangan. Untuk itu, kritik dan saran maupun masukan dari semua pihak sangat saya harapkan demi kesempurnaan karya tulis ilmiah ini.

Semoga karya tulis ilmiah ini bermanfaat bagi kita dan dapat memberikan pengetahuan bagi kita semua serta berguna bagi siswa siswi disekolah maupun dimasyarakat.

 

 

DAFTAR ISI


 

PENDAHULUAN

  1. 1.     LATAR BELAKANG MASALAH

Museum Perjuangan Rakyat Bali atau museum Bajra Sandi tercetus Pada Tahun 1980. Berawal dari ide Dr. Ida Bagus Mantra yang saat itu adalah Gubernur Bali. Ia mencetuskan ide awalnya tentang museum dan monumen untuk perjuangan rakyat Bali. Lalu pada tahun 1981, diadakan sayembara desain monumen, yang dimenangkan oleh Ida Bagus Yadnya, yang adalah seorang mahasiswa jurusan arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana. Lalu pada tahun 1988 dilakukan peletakan batu pertama dan selama kurang lebih 13 tahun pembangunan monumen selesai. Tahun 2001, bangunan fisik monumen selesai. Setahun kemudian, pengisian diorama dan penataan lingkungan monumen dilakukan. Pada bulan September 2002, SK Gubernur Bali tentang penunjukan Kepala UPTD Monumen dilaksanakan. Dan akhirnya, pada tanggal 1 Agustus 2004, Pelayanan kepada masyarakat dibuka secara umum, setelah sebelumnya pada bulan Juni 2003 peresmian Monumen dilakukan oleh Presiden RI pada saat itu Ibu Megawati Soekarnoputri.

Monumen yang terletak di kawasan Lapangan Renon ini memang sangat menarik perhatian bagi semua orang karena tempatnya yang terawat dengan baik dan bersih dan lengkap dengan menara yang menjulang ke angkasa yang mempunyai arsitektur khas Bali yang indah. Lokasi monumen ini juga sangat strategis karena terletak di depan Kantor Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali yang juga di depan Gedung DPRD Provinsi Bali tepatnya di Lapangan Renon Nitimandala. Tempat ini merupakan tempat pertempuran jaman kemerdekaan antara rakyat Bali melawan pasukan penjajah. Perang ini terkenal dengan sebutan “Perang Puputan” yang berarti perang habis-habisan. Monumen ini didirikan untuk memberi penghormatan pada para pahlawan serta merupakan lambang penghormatan atas perjuangan rakyat Bali.

 

 

 

  1. 2.     RUMUSAN MASALAH
    1. Bagaimana sejarah museum Bajra Sandi di pulau Bali ?
    2. Bagaimana visi dan misi museum Bajra Sandi ?
    3. Apa yang dimaksud Tri Mandala dan Tri Angga ?
    4. Apa arti penting museum Bajra Sandi bagi rakyat Bali ?
    5. Bagaimana latar belakang terjadinya Perang Puputan itu ?

 

  1. 3.     TUJUAN PENULISAN
    1. Mendeskripsikan sejarah museum Bjra Sandi di Pulai Bali.
    2. Mendeskripsikan visi dan misi museum Bajra Sandi.
    3. Mendeskripsikan Tri Mandala dan Tri Angga.
    4. Mendeskripsikan apa arti penting museum Bajra Sandi bagi rakyat Bali.
    5. Mendeskripsikan latar belakang terjadinya Perang Puputan.

 

  1. 4.     MANFAAT PENULISAN

Bisa dijadikan sebagai sumber pengetahuan dan pengalaman bagi siswa mengenai sejarah museum Bajra Sandi dan apa yang ada di dalam museum tersebut.

kata pengantar

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas berkat dan hidayahnya saya dapat menyelesaikan sebuah karya tulis ilmiah sejarah yang didasarkan pada study lapangan yang telah saya ikuti.

Tiada gading yang tak retak, demikian pula dengan karya tulis ilmiah ini tentu masih banyak kekurangan. Untuk itu, kritik dan saran maupun masukan dari semua pihak sangat saya harapkan demi kesempurnaan karya tulis ilmiah ini.

Semoga karya tulis ilmiah ini bermanfaat bagi kita dan dapat memberikan pengetahuan bagi kita semua serta berguna bagi siswa siswi disekolah maupun dimasyarakat.

makalah seni budaya

KARAKTERISTIK SENI LUKIS BALI

Seni lukis merupakan karya seni rupa berwujud dua dimensi yang dalam penciptaannya mengolah unsur titik, garis, bidang, tekstur, warna, gelap-terang, dan lain-lain melalui pertimbangan estetik. Pada karya seni rupa purbakala, objek yang dipilih kebanyakan berupa bentuk manusia, flora, dan fauna.

Dan menurut pengamatan yang telah saya amati dalam study lapangan ke pulau Bali, karakteristik seni lukis yang ada di pulau Bali adalah sebagai berikut :

  • biasanya melukiskan ceritra-ceritra rakyat Bali, dongeng-dongeng rakyat dan semacamnya sehingga membutuhkan pemahaman tentang kepercayaan rakyat Bali untuk memahami tema lukisannya.
    • banyak mengusung tema tradisional namun juga dilukis dengan gaya modern.

BENTUK / CIRI KHAS BANGUNAN BALI

Seni bangunan tradisional suku bangsa Bali sebagai berikut.

Setiap bangunan tampil simpel tetapi modern namun tetap diiberi Ciri khas tradisional Bali seperti material alang-alang untuk atap. Mengandung simbol-simbol sesuai dengan ajaran agama Hindu, (misalnya: Sanghyang Acintya, Naga, Padma dan sebagainya). segala bentuk ukuran dan skala didasarkan pada orgaan tubuh manusia. Ciri-ciri Bangunan Bali:

  • Pengider-ider(Catur Loka Phala/Asta Dala)
  • Tri Mandala/Tri Loka.
  • Adanya upacara Sangaskara/pensucian.
  • Mengandung simbol-simbol sesuai dengan ajaran Agama Hindu(S.H. Acintya, Naga, Padma dll)
  1. Gapura Candi Betar merupakan bangunan pintu masuk ke istana raja yang terbuat dari batu bata dengan ukir-ukiran di atas batu cadas.
  2. Balai Bengong merupakan tempat istirahat raja dan keluarganya.
  3. Balai Wanikan merupakan tempat adu ayam atau penyelenggaraan pertunjukan kesenian.
  4. Kori Agung merupakan bangunan pintu masuk pada upacara besar.
  5. Kori Babetelan merupakan pintu untuk keperluan keluarga.

RELIGI (SENI DAN AGAMA)

Lukisan sebagai kesenian sakral, karena semata-mata dipergunakan sebagai hiasan di tempat-tempat pertunjukan, di istana-sitana bangsawan dan di pura-pura, baik itu sebagai umbul-umbul, kober ataupun sebagai langse dan ider-ider.

MAKALAH GEOGRAFI

PENGAMATAN GEOGRAFI DI TANAH LOT

Tanah Lot’ adalah sebuah objek wisata di Bali, Indonesia. Di sini ada dua pura yang terletak di atas batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu dan satunya terletak di atas tebing mirip dengan Pura Uluwatu. Pura Tanah Lot ini merupakan bagian dari pura Dang Kahyangan. Pura Tanah Lot merupakan pura laut tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut.

Menurut legenda, pura ini dibangun oleh seorang brahmana yang mengembara dari Jawa. Ia adalah Danghyang Nirartha yang berhasil menguatkan kepercayaan penduduk Bali akan ajaran Hindu dan membangun Sad Kahyangan tersebut pada abad ke-16. Pada saat itu penguasa Tanah Lot, Bendesa Beraben, iri terhadap beliau karena para pengikutnya mulai meninggalkannya dan mengikuti Danghyang Nirartha. Bendesa Beraben menyuruh Danghyang Nirartha untuk meninggalkan Tanah Lot. Ia menyanggupi dan sebelum meninggalkan Tanah Lot beliau dengan kekuatannya memindahkan Bongkahan Batu ke tengah pantai (bukan ke tengah laut) dan membangun pura di sana. Ia juga mengubah selendangnya menjadi ular penjaga pura. Ular ini masih ada sampai sekarang dan secara ilmiah ular ini termasuk jenis ular laut yang mempunyai ciri-ciri berekor pipih seperti ikan, warna hitam berbelang kuning dan mempunyai racun 3 kali lebih kuat dari ular cobra. Akhir dari legenda menyebutkan bahwa Bendesa Beraben ‘akhirnya’ menjadi pengikut Danghyang Nirartha.

Jenis Tanah
Tanah di daerah ini tergolong Aluvial Grumof, andosol, Reandosol. Tanahnya juga mempunyai berat jenis yang rendah. Tanahnya berasal dari ordo Eulotropet, mediteran dan Habluands.

Keterangan

  • Tanah alluvial disebut juga tanah hasil endapan. Lumpur sungai yang mengendap di dataran rendah akan membentuk tanah endapan. Umumnya tanah ini memiliki tingkat kesuburan yang tinggi, sehingga cocok untuk bercocok tanam.
  • Tanah Andosol berasal dari nama andosol sendiri yaitu kata Ando yang memiliki makna ‘hitam’ dan sol yang artinya tanah. Tanah andosol atau juga disebut tanah vulkanis, punya cirikhas yang mudah dikenali. Warnanya yang gelap/hitam, abu-abu, coklat tuahingga kekuningan, berasal dari sisa abu vilkanik dari letusan gunung berapi. Olehsebab itu,, tanah jenis ini banyak ditemukan di daerah sekitar lereng gunungberapi.Tanah jenis ini biasanya subur dan bertekstur gembur hingga lempung, bahkan dibeberapa tempat bertekstur debu. Sehingga petani menyukainya karena mudahdalam pengolahan. Sangat ringan dicangkul dan pori-pori tanahnya memudahkansirkulasi udara masuk ke akar tanaman.

Warna Tanah

Warna tanah di tanah lot adalah abu abu kecoklatan,

Vegetasi
Vegetasinya tergolong vegetasi pantai yang paling dominan. Ada kelapa, randu dan lain lain.

Tekstur tanah

Tekstur tanah di tanah lot yaitu kasar. Karena tanah berpasir masuk ke dalam tekstur tanah yang masuk ke dalam kelompok tekstur tanah kasar.

Lokasi Tanah Lot

Obyek wisata tanah lot terletak di Desa Beraban Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan, sekitar 13 km barat Tabanan. Disebelah utara Pura Tanah Lot terdapat sebuah Pura yang terletak di atas tebing yang menjorok ke laut. Tebing ini menghubungkan Pura dengan daratan dan berbentuk seperti jembatan (melengkung). Tanah Lot terkenal sebagai tempat yang indah untuk melihat matahari terbenam (sunset), turis-turis biasanya ramai pada sore hari untuk melihat keindahan sunset di sini.

makalah sejarah

MUSEUM BAJRA SANDI

 

Museum Bajra Sandi merupakan Monumen Perjuangan Rakyat Bali yang terletak di areal lapangan Niti Mandala Denpasar, Jl. Raya Puputan. Museum ini dibangun dengan meniru mentuk bajra yang sering digunakan oleh pemangku/sulinggih. Museum ini dibangun di atas tanah seluas 13,8 hektar dengan luas gedung 70 x 70 meter. Museum ini diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarno Putri pada tanggal 14 Juni 2003.

Museum ini menjadi simbol masyarakat Bali untuk menghormati para pahlawan serta merupakan lambang persemaian pelestarian jiwa perjuangan rakyat Bali dari generasi ke generasi dan dari zaman ke zaman, serta lambang semangat untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari 17 anak tangga yang ada di pintu utama, 8 buah tiang agung di dalam gedung monumen, dan monumen yang menjulang setinggi 45 meter.

Bentuk museum ini diambil berdasarkan cerita Hindu pada saat Pemutaran Gunung Giri Mandara oleh Para Dewa dan Raksasa guna mendapatkan Tirta Amertha atau Air Suci Kehidupan.

Dinamakan Museum Bajra Sandi karena bentuk museum ini seperti Bajra atau Genta yang dipakai oleh para pemimpin Agama Hindu dalam mengiringi pengucapan japa mantra pada saat melakukan upacara Agama Hindu. Adapun bagian-bagian yang penting dalam museum ini adalah sebagai berikut :

  • Bangunan Museum yang menjulang melambangkan Gunung Giri Mandara.
  • Guci Amertha dilambangkan dalam bentuk Kumba (periuk) tepat bagian atas museum.
  • Naga yang melilit museum melambangkan Naga Basuki yang digunakan sebagai tali dalm pemutaran Giri Mandara.
  • Kura-kura yang terdapat di bagian bawah museum merupakan simbul dari Bedawang Akupa yang digunakan sebagai alas pemutaran Giri Mandara.
  • Kolam yang terdapat disekeliling museum merupakan simbul dari Lautan Susu yang mengelilingi Giri Mandara tempat beradanya Air Suci Kehidupan atau Tirtha Amertha.

Visi dan Misi Museum Bajra Sandi

a.       Visi

Terwujudnya kelestarian nilai-nilai kepahlawanan, keperintisan, dan kejuangan dalam mendukung pelestarian dan pengembangan budaya.

b.      Misi

  • Melestarikan dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap warisan budaya berupa berupa nilai-nilai kepahlawana, keperintisan, dan kejuangan khusunya di hati generasi muda penerus bangsa.
  • Melaksanakan kajian-kajian ilmiah tonggak-tonggak sejarah perjuangan rakyat Bali.

Tri Mandala

Secara horizontal, museum ini menggunakan konsep Tri Mandala, yaitu:

1. Utama Mandala, yaitu bagian gedung utama yang paling megah.

2. Madya Mandala, yaitu pelataran yang mengitari Utama Mandala.

3. Nista Mandala, yaitu pelataran paling luar yang mengitari Madya Mandala.

Tri Angga

Secara vertikal, museum ini mengadopsi konsep Tri Angga, meliputi:

  1. Utamaning Utama Mandala, yaitu lantai teratas gedung, dan digunakan sebagai Ruang Peninjauan. Dari sini kita dapat melihat suasana di sekitar gedung dengan jelas. Untuk mencapai tempat ini kita harus menaiki tangga melingkar yang cukup tinggi.
  2. Madyaning Utama Mandala, yaitu lantai dua gedung, digunakan sebagai Ruang Stage Diorama. Di ruang ini kita dapat melihat 33 diorama yang menampilkan sejarah perkembangan dan pergerakan rakyat Bali dari masa ke masa. Selain diorama, ada juga keris
  3. Nistaning Utama mandala, merupakan lantai dasar gedung ini. Di sini ada berbagai ruangan, meliputi Ruang Informasi, Ruang Administrasi, Ruang Pameran yang menampilkan foto-foto pahlawan dan peristiwa di Bali, Ruang Perpustakaan yang berisi buku-buku yang berkaitan dengan sejarah Bali, dan Ruang Rapat serta toilet.

Selain ruangan-ruangan tersebut, di lantai dasar dapat juga dijumpai telaga yang berada di dasar bagian tengah gedung, dinamakan Puser Tasik. Di telaga ini terdapat delapan Tiang Agung. Di tengah kolam terdapat tangga yang menghubungkan lantai dasar sampai lantai teratas, dinamakan Tangga Tapak Dara.Di bagian luar gedung ini, kita dapat melihat Bale Bengong di keempat penjuru museum untuk peristirahatan para wisatawan. Selain itu, di bawah tangga masuk juga terdapat kolam berisi ikan hias. Di bagian paling luar, terdapat lapangan yang bisa digunakan untuk lari pagi.Museum ini dibuka setiap hari pukul 08.30-17.00 WITA, terkecuali hari besar Agama di Bali. Untuk masuk Anda harus membayar tiket masuk sebesar Rp 2.000,00 per orang untuk orang dewasa dan Rp 1.000,00 per orang untuk pengunjung anak-anak.